Archimedes Principle

Archimedes’ principle, principle that states that a body immersed in a fluid is buoyed up by a force equal to the weight of the displaced fluid. The principle applies to both floating and submerged bodies and to all fluids, i.e., liquids and gases. It explains not only the buoyancy of ships and other vessels in water but also the rise of a balloon in the air and the apparent loss of weight of objects underwater. In determining whether a given body will float in a given fluid, both weight and volume must be considered; that is, the relative density , or weight per unit of volume, of the body compared to the fluid determines the buoyant force. If the body is less dense than the fluid, it will float or, in the case of a balloon, it will rise. If the body is denser than the fluid, it will sink. Relative density also determines the proportion of a floating body that will be submerged in a fluid. If the body is two thirds as dense as the fluid, then two thirds of its volume will be submerged, displacing in the process a volume of fluid whose weight is equal to the entire weight of the body. In the case of a submerged body, the apparent weight of the body is equal to its weight in air less the weight of an equal volume of fluid. The fluid most often encountered in applications of Archimedes’ principle is water, and the specific gravity of a substance is a convenient measure of its relative density compared to water. In calculating the buoyant force on a body, however, one must also take into account the shape and position of the body. A steel rowboat placed on end into the water will sink because the density of steel is much greater than that of water. However, in its normal, keel-down position, the effective volume of the boat includes all the air inside it, so that its average density is then less than that of water, and as a result it will float.

Advertisements

Literatur Fisika (massa jenis)

Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya besi) akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air).

Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kg·m-3)

Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu zat berapapun massanya berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama.

Rumus untuk menentukan massa jenis adalah

\rho = \frac{m}{V}

dengan

ρ adalah massa jenis,
m adalah massa,
V adalah volume.

Satuan massa jenis dalam ‘CGS [centi-gram-sekon]’ adalah: gram per sentimeter kubik (g/cm3).

1 g/cm3=1000 kg/m3

Massa jenis air murni adalah 1 g/cm3 atau sama dengan 1000 kg/m3

Selain karena angkanya yang mudah diingat dan mudah dipakai untuk menghitung, maka massa jenis air dipakai perbandingan untuk rumus ke-2 menghitung massa jenis, atau yang dinamakan ‘Massa Jenis Relatif’

Rumus massa jenis relatif = Massa bahan / Massa air yang volumenya sama

Tugas Agama (adab menerima tamu bagi muslimah)

TAMU LAKI-LAKI (Bukan Mahram)

Ada kalanya muslimah tidak mengetahui bahwa menerima tamu laki-laki yg bukan mahramnya tidak sama ketika dia menerima tamu wanita.

  1. Saat menemui tamu muslimah itu harus menutup auratnya dgn sempurna, dgn jilbab sesuai yg dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wa sallam.

-Ada kebiasaan muslimah, ketika ia keluar rumah (ke kantor/pasar/kampus) ia menggunakan jilbab, namun ketika ia menerima tamu laki-laki yg bukan mahramnya, ia tampil terbuka dan menampakkan aurat yg seharusnya ditutupi, dan hal itu dilarang.-

  1. Tamu tersebut boleh dipersilahkan masuk ke ruang tamu jika muslimah itu tidak sendirian di rumahnya.

-Kebiasaan buruk dari muslimah adalah tidak memperhatikan kondisi saat mempersilahkan tamu pria itu masuk, padahal rumahnya sedang sepi, sehingga di ruang itu hanya ada dia dan tamu pria nya itu.Hal tersebut dilarang karena bisa menimbulkan fitnah (ujian) bagi keduanya, dan Setan adalah pihak ketiga saat itu yg senantiasa menggoda & mengobarkan bendera kemaksiatan. Sebaiknya jika rumah sedang sepi, tamu tersebut tidak diperbolehkan masuk, dan muslimah itu hendaknya bertanya apa keperluan tamunya dari balik pintu (itu yg lebih baik) dan katakan bahwa di rumah sedang tidak ada siapa-siapa sehingga diharapkan tamu pria itu memaklumi untuk tidak memasuki rumah itu.-

Sebuah contoh – Saya pernah mendapatkan amanah dari kakak perempuan saya untuk memberikan sejumlah uang kepada Pak Ya***, dia adalah suami dari teman kakak saya. Pak Ya*** juga adalah teman saya. Ketika saya tiba di rumahnya, Pak Ya*** itu sedang tidak di rumah, yg ada hanya istrinya. Dan ketika memberi salam, istrinya menjawab dari dalam pintu. Dan ia mengatakan bahwa suaminya sedang pergi, kami berbicara dari balik pintu, tanpa saya masuk ke rumah itu, lalu setelah saya mengatakan tujuan saya datang untuk menyerahkan uang tersebut, dan karena suaminya tidak ada jadi lebih baik dititipkan/ diberikan kpd istrinya, di saat itu istrinya keluar dan mengambil uang itu, lalu saya pergi. Insya Allah cara seperti itu lebih baik,lebih terjaga dan itulah yg sesuai Syar’i. Allahu ’alam.

Dan ini Nasihat bagi setiap muslim, jika ia bertamu, dan mengucapkan salam dari balik pintu, hendaklah ia jangan memandangi pintu atau jendela rumah itu, karena dikhawatirkan saat itu kita melihat wanita (istri orang lain) dalam keadaan belum memakai jilbab. Jadi palingkanlah wajahmu pada arah lain. Sehingga dengan kondisi itu engkau telah menghormati tuan rumah itu. Allahu ’alam.

  1. Jangan sendirian bersama tamu laki-laki itu, hendaknya didampingi oleh mahram muslimah itu sampai keperluan tamu itu selesai.

Ketika muslimah mempersilahkan masuk, hendaknya ia mempersilahkan tamunya duduk, dan ia langsung masuk ke dalam untuk meminta orang tuanya, kakak/ adik laki-lakinya untuk menemani muslimah itu di ruang tamu. Jadi ketika ia menerima tamu prianya tidak dalam keadaan berdua-duaan saja. Sekalipun orang tua wanita itu ada di dalam kamarnya, sangat tidak baik membiarkan anaknya berdua-duaan di ruang tamu dgn laki-laki yg bukan mahramnya.

  1. Biasakan memuliakan tamu dengan menghidangkan makanan/ minuman dan juga dgn perkataan yg sopan sesuai adab dalam menerima tamu.

Seperti adab dalam menerima tamu, yg terutama adalah memuliakan tamu tersebut seperti apa yg dicontohkan dalam agama ini.

TAMU WANITA (muslimah)

Jika tamu itu wanita (muslimah) yg berjilbab. Hendaklah tamu wanita itu diterima dalam kamar muslimah itu. Bukan di ruang tamu, karena semua itu untuk menghindari keburukan bagi tamu wanitanya itu, karena mungkin saja Ayah atau adik laki-laki muslimah itu memiliki keperluan dalam keluar masuk rumah itu. Dan adakalanya tamu wanita itu hendak melepas jilbabnya, jadi ketika ia bertamu ke rumahmu tempat yg paling aman adalah di dalam kamarmu wahai muslimah, karena dgn begitu engkau menjaga tamu wanitamu dan engkau juga telah memuliakannya. Allahu ’alam.

Tugas Agama (adab bertamu 2)

1. Memperbaiki Niat

Tidak bisa dipungkiri bahwa niat merupakan landasan dasar dalam setiap amalan. Hendaklah setiap muslim yang akan bertamu, selain untuk menunaikan hajatnya, juga ia niatkan untuk menyambung silaturahim dan mempererat ukhuwah. Sehingga,… tidak ada satu amalan pun yang ia perbuat melainkan berguna bagi agama dan dunianya. Tentang niat ini Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امريء ما نوى

“Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu dengan niat dan setiap orang tergantung pada apa yang ia niatkan” (HR. Bukhari, Muslim dan selain keduanya).

Ibnul-Mubarak berkata :

رب عمل صغير تعظمه النية ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa amal kecil diperbesar oleh niatnya dan betapa amal besar diperkecil oleh niatnya” (Jaami’ul-Ulum wal-Hikam halaman 17 – Daarul-Hadits).

2. Memberitahukan Perihal Kedatangannya (untuk Minta Ijin) Sebelum Bertamu

Adab ini sangat penting untuk diperhatikan. Mengapa ? Karena tidak setiap waktu setiap muslim itu siap menerima tamu. Barangkali ia punya keperluan/hajat yang harus ditunaikan sehingga ia tidak bisa ditemui. Atau barangkali ia dalam keadaan sempit sehingga ia tidak bisa menjamu tamu sebagaimana dianjurkan oleh syari’at. Betapa banyak manusia yang tidak bisa menolak seorang tamu apabila si tamu telah mengetuk pintu dan mengucapkan salam padahal ia punya hajat yang hendak ia tunaikan.
Allah telah memberikan kemudahan kepada kita berupa sarana-sarana komunikasi (surat, telepon, sms, dan yang lainnya) yang bisa kita gunakan untuk melaksanakan adab ini.

3. Menentukan Awal dan Akhir Waktu Bertamu

Adab ini sebagai alat kendali dalam mengefisienkan waktu bertamu. Tidak mungkin seluruh waktu hanya habis untuk bertamu dan melayani tamu. Setiap aktifitas selalu dibatasi oleh aktifitas lainnya, baik bagi yang bertamu maupun yang ditamui (tuan rumah). Apabila memang keperluannya telah usai, maka hendaknya ia segera berpamitan pulang sehingga waktu tidak terbuang sia-sia dan tidak memberatkan tuan rumah dalam pelayanan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فإذا قضى أحدكم نهمته من وجهه فليعجل إلى أهله

“Apabila salah seorang diantara kamu telah selesai dari maksud bepergiannya, maka hendaklah ia segera kembali menuju keluarganya” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Berwajah Ceria dan Bertutur Kata Lembut dan Baik Ketika Bertemu

Wajah muram dan tutur kata kasar adalah perangai yang tidak disenangi oleh setiap jiwa yang menemuinya. Allah telah memerintahkan untuk bersikap lemah lembut, baik dalam hiasan rona wajah maupun tutur kata kepada setiap bani Adam, dan lebih khusus lagi terhadap orang-orang yang beriman. Dia telah berfirman :

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman” (QS. Al-Hijr : 88).

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata : [ألن لهم جانبك, كقوله: {لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم}] “Maksudnya bersikap lemah lembutlah kepada mereka sebagaimana firman Allah ta’ala : “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang beriman” (QS. At-Taubah : 128).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق

“Janganlah sekali-kali kamu meremehkan sedikitpun dari kebaikan-kebaikan, meskipun hanya kamu menjumpai saudaramu dengan muka manis/ceria” (HR. Muslim).

Selain berwajah ceria dan bertutur kata lembut, yang lebih penting untuk diperhatikan adalah hendaklah ia berkata baik dan benar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan tegas telah memebri peringatan :

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam” (HR. Bukhari, Muslim, dan selain keduanya. Hadits ini terdapat dalam Arba’in Nawawi nomor 15).

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menggandengkan kata iman dengan pilihan antara berbicara baik atau diam. Mafhumnya, jika seseorang tidak mengambil dua pilihan ini, maka ia dikatakan tidak beriman (dalam arti : imannya tidak sempurna). Hukum asal dari perbuatan adalah diam. Kalaupun ia ingin berkata, maka ia harus berkata dengan kata-kata yang baik. Sungguh rugi jika seseorang bertamu dan bermajelis dengan mengambil perkataan sia-sia lagi dosa seperti ghibah, namimah (adu domba), dan lainnya yang tidak menambah apapun dalam timbangan akhirat kelak kecuali dosa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إن الرجل ليتكلم بالكلمة ما يتبين ما فيها يزل بها في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب

‘Sesungguhnya seseorang mengucapkan kata-kata, ia tidak menyangka bahwa ucapannya menyebabkan ia tergelincir di neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat” (HR. Bukhari dan Muslim).

5. Tidak Sering Bertamu

Mengatur frekwensi bertamu sesuai dengan kebutuhan dapat menimbulkan kerinduan dan kasih-sayang. Hal itu merupakan sikap pertengahan antara terlalu sering dan terlalu jarang. Terlalu sering menyebabkan kebosanan. Sebaliknya, terlalu jarang mengakibatkan putusnya hubungan silaturahim dan kekeluargaan.

6. Dianjurkan Membawa Sesuatu Sebagai Hadiah

Memberi hadiah termasuk amal kebaikan yang dianjurkan. Sikap saling memberi hadiah dapat menimbulkan perasaan cinta dan kasih saying, karena pada dasarnya jiwa senang pada pemberian. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

تهادوا تحابوا

“Berilah hadiah di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad 594; dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwaa’ nomor 1601).

7. Tidak Boleh Seorang Laki-Laki Bertamu kepada Seorang Wanita yang Suaminya atau Mahramnya Tidak Ada di Rumah

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sangat keras menekankan pelarangan ini sebagaimana sabda beliau :

إياكم والدخول على النساء فقال رجل من الأنصار يا رسول الله أفرأيت الحمو قال الحمو الموت

“Janganlah sekali-kali menjumpai wanita”. Maka seorang laki-laki dari kaum Anshar bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan Al-Hamwu?”. Beliau menjawab : “Al-Hamwu adalah maut” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Baghawi dalam menerangkan hadits ini mengatakan : Al-Hamwu jamaknya Ahma’ yaitu keluarga laki-laki dari pihak suami dan keluarga perempuan dari pihak istri. Dan yang dimaksudkan di sini adalah saudara laki-laki suami (ipar) sebab dia bukan mahram bagi istri. Dan bila yang dimaukan adalah ayah suami sedang ayah suami adalah mahram, maka bagaimana lagi dengan yang bukan mahram ?

Tentang kalimat “Al-Hamwu adalah maut”; Ibnul-‘Arabi berkata : “Ini adalah kalimat yang diucapkan oleh orang Arab, sama dengan ungkapan : Serigala adalah maut. Artinya, bertemu serigala sama dengan bertemu maut”.

8. Dan Lain-Lain

Masih banyak adab-adab bertamu jika diuraikan secara lebih luas lagi seperti memilih waktu untuk bertamu, mengucapkan salam, menjaga pandangan, dan yang lainnya dimana sebagiannya telah dituliskan sebelumnya di “Adab-Adab Minta Ijin”. Sedikit yang bisa dituliskan di atas semoga bermanfaat bagi kita semua. Allaahu a’lam.

 

copied from : aliph.wordpress.com

Tugas Agama (adab bertamu)

  1. Memuliakan Tamu

     

    Kewajiban seorang muslim terhadap tamunya adalah memuliakannya. Memuliakan artinya menerima tamu dengan baik, menghormatinya dan membuatnya nyaman selama bertamu.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi asallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamu sesuai dengan jatah harinya”. Para Sahabat bertanya, berapa jatah harinya, wahai Rasulullah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, siang hari dan malam harinya, bertamu itu selama 3 hari dan selebihnya adalah sedekah,” (Muttafaq ‘alaih)

     

  2. Tidak membeda-bedakan tamuMengundang tamu hendaknya tidak hanya dari orang-orang kaya saja sedangkan orag miskin diabaikan. Bila tidak pernah engundang orang miskin, akan merusak hati karena tidak pernah melihat kesusahan orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam besabda, “Sejelek-jelek makanan resepsi adalah yang hanya mengundang orang kaya saja tanpa orang-orang miskin. (Muttafaq ‘alaih)

     

  3. Memenuhi undanganSeseorang hendaknya memenuhi undangan selama tidak melanggar ajaran agama dan tidak merusak badannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. Barangsiapa diundang, hendaknya ia memenuhinya. (HR.muslim)

     

  4. Bila Sedang PuasaWalaupun sedang puasa kita tetap harus memnuhi undangan. Apabila tuan rumah senang jika ia makan, maka ia boleh membatalkan puasa (puasa sunnah). Jika ia tidak membatalkan puaanya, hendaklah a berkata yang baik kepada tuan rumah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika salah seorang dari kalian diundang, hendaklah ia memenuhi uandangan tersebut. Jika ia sedang berpuasa sunnah, hendaklah ia mendoakan pihak pengundang. Jika ia tidak berpuasa, hendaklah ia ikut makan.” (HR Muslim

Tugas Agama (adab bertamu & menerima tamu 1)

Dalam kehidupan sehari-hari, dapat dipastikan bahwa seorang manusia tidak dapat hidup seorang diri, sekaya dan secukup apapun, pastilah seorang manusia membutuhkan pertolongan dan bantuan orang lain. Dari rasa saling membutuhkan inilah timbul jalinan persaudaraan atau ukhuwah,pertemanan, dll. Dan setiap kegiatan sosialisasi tentunya ada kegiatan saling berkunjung baik ke rumah kerabat maupun menghadiri undangan walimahan kerabat, dll.

Hal inilah yang membuat saya berpikir lebih lanjut, bagaimana sih adab bertamu ke rumah kerabat atau memenuhi undangannya secara Islam. Bagaimana secara Islam sikap yang seharusnya dalam memuliakan tamu dan menjadi tuan rumah, saya menemukan beberapa artikel di Internet yang akan saya copy paste disini. Semoga membantu dan menjadi pelajaran bagi kita semua dan terutama diri saya sendiri. Insya Allah… Amiin…

Adab bertamu bagi Tamu:

1. Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada udzur/halangan, karena hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengatakan:“Barangsiapa yang diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya”. (HR. Muslim)

2. Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan (cambuk) terhadap perasaannya. Ini berarti Islam secara NYATA mengajarkan bahwa tidak ada perbedaan manusia, kecuali dalam hal takwa.Apabila kita sedang berpuasa sekalipun, diharapkan hadir. Ada hadits yang bersumber dari Jabir Radhiallaahu anhu menyebutkan bahwasanya Rasululloh SAW bersabda:”Barangsiapa yang diundang untuk jamuan sedangkan ia berpuasa, maka hendaklah ia menghadirinya. Jika ia suka makanlah dan jika tidak, tidaklah mengapa.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani).

3. Jangan terlalu lama menunggu di saat bertamu karena ini memberatkan yang punya rumah juga jangan tergesa-gesa datang karena membuat yang punya rumah kaget sebelum semuanya siap. Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu.

4. Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah.

5. Hendaknya mendo`akan untuk orang yang mengundangnya seusai menyantap hidangannya. “Ya Allah, ampunilah mereka, belas kasihilah mereka, berkahilah bagi mereka apa yang telah Engkau karunia-kan kepada mereka. Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi kami makan, dan berilah minum orang yang memberi kami minum”.

6. Tidak Mengintai Ke Dalam Bilik. Jika kita hendak bertamu dan telah sampai di halaman rumah, tidak diizinkan mengintip melalui jendela atau bilik, walaupun tujuannya ingin mengetahui penghuninya ada atau tidak.

7. Tidak Masuk Rumah Walaupun Terbuka Pintunya. Dari ayat 27 An Nuur, sebagaimana telah ditulis di atas, kita baru boleh masuk rumah orang lain harus mendapatkan izin dari pemilik rumah.

8. Minta Izin Maksimal Tiga Kali. Tamu yang hendak masuk di (halaman) rumah orang lain jika telah meminta izin tiga kali, tidak ada yang menjawab atau tidak diizinkan, hendaknya pergi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata,“Abu Musa telah meminta izin tiga kali kepada Umar untuk memasuki rumahnya, tetapi tidak ada yang menjawab, lalu dia pergi, maka sahabat Umar menemuinya dan bertanya,”Mengapa kamu kembali?” Dia menjawab,”Saya mendengar Rasululloh bersabda,”Barangsiapa meminta izin tiga kali, lalu tidak diizinkan, maka hendaklah kembali.”

9. Tidak Menghadap Ke Arah Pintu Masuk. Ketika tamu tiba di depan rumah, hendaknya tidak menghadap ke arah pintu. Tetapi hendaknya dia berdiri di sebelah pintu, baik di kanan maupun di sebelah kiri. Hal ini dicontohkan Rasululloh SAW.Dari Abdulloh bin Bisyer ia berkata,“Adalah Rasululloh SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan ”Assalamu ‘alaikum … assalamu ‘alaikum …”

10. Hendaknya Menyebut Nama Yang Jelas. Ketika tuan rumah menanyakan nama, tamu tidak boleh menjawab dengan jawaban “Saya” atau jawaban yang tidak jelas. Karena tujuan tuan rumah bertanya adalah ingin tahu siapa tamu yang mengunjunginya dan untuk menentukan sikap apakah tamu tersebut boleh masuk atau tidak.

Adab menerima tamu bagi Tuan Rumah:

1. Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan/melupakan orang-orang fakir. Rasululloh SAW bersabda:“Seburuk-buruk makanan adalah makanan pengantinan (walimah), karena yang diundang hanya orang-orang kaya tanpa orang-orang faqir.” (Muttafaq’ alaih).

2. Undangan jamuan hendaknya tidak diniatkan berbangga-bangga dan berfoya-foya, akan tetapi niat untuk mengikuti sunnah Rasululloh SAW dan membahagiakan teman-teman sahabat, ataupun syukuran dalam rangka bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

3. Tidak memaksakan diri untuk mengundang tamu. Di dalam hadits Anas Radhiallaahu anhu ia menuturkan:“Pada suatu ketika kami ada di sisi Umar, maka ia berkata: “Kami dilarang memaksa diri” (membuat diri sendiri repot).” (HR. Al-Bukhari)

4. Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan.

5. Jangan menampakkan kejemuan/kebosanan terhadap tamu, tetapi tunjukkanlah kegembiraan dengan kahadiran tamu tersebut.

6. Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya.

7. Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan (hidangan) sebelum tamu selesai menikmati jamuan.

8. Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.

A special poem

If you are alone, I’ll be your shadow …

If you want to cry, I’ll be your shoulder …

If you aren’t happy, I’ll be your smile …

If you ever need me, I’ll always be there …


a poem from my Junior High School teacher, Mrs. Rini

I had it in my test.

what a nice poem ! 🙂

Mini Zoo

a memory that makes me feel happy …. 🙂

 

at park

at 31/07/2008

one year ago…

When You Tell Me That You Love Me

I wanna call the stars
Down from the sky
I wanna live a day
That never dies
I wanna change the world
Only for you
All the impossible
I wanna do

I wanna hold you close
Under the rain
I wanna kiss your smile
And feel the pain
I know what’s beautiful
Looking at you
In a world of lies
You are the truth

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I’ll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I’m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

I wanna make you see
Just what I was
Show you the loneliness
And what it does
You walked into my life
To stop my tears
Everything’s easy now
I have you here

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I’ll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I’m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

In a world without you
I would always hunger
All I need is your love to make me stronger

And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I’ll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I’m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me

You love me
When you tell me that you love me

The Way You Look at Me

No one ever saw me like you do
All the things that I could up to
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything without a single word

‘Cause there’s something in the way you look at me
It’s as if my heart knows you’re the missing piece
You made me believe that there’s nothing in this world I can’t be
I never know what you see
But there’s something in the way you look at me

If i could freeze some moment in my mind
Be the second that you touch your lips to mine
I’d like to stop the clock, make time stand still
‘Cause baby, this is just the way I always wanna feel

I don’t know how or why I feel different in your eyes
All I know is it happens everytime

« Older entries